Pernah nggak di suatu waktu kamu cuma ingin duduk diam, ditemani angin sejuk, pasang lagu mellow, terus di depan mata ada panorama yang saking indahnya, kamera saja nggak cukup? Pokoknya… beyond words. Itu yang saya rasakan waktu berkunjung ke Pulau Padar. Semua hiruk-pikuk di Jakarta hilang begitu saja.

Padar Menyentuh Hati

Setelah berlayar ke Pulau Rinca untuk melihat komodo, pukul tiga sore kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Padar. Tadinya pemandu tur, Yoram, sempat menakut-nakuti, kelompok kami tidak bisa ke sana karena angin sangat kencang. Saya pun kecewa, bahkan merajuk ke Yoram.

“Padahal kata orang-orang itu highlight-nya loh!”

pulau padar
Pulau Padar di pagi hari.

Beruntunglah, sebelum matahari terbenam kami sudah tiba di Padar sehingga kapal bisa berlabuh dengan tenang. Kalau sampai tidak jadi, wah saya bisa mencak-mencak lihat postingan Instagram orang yang berhasil kemari. 

Sampai di Padar, kami tidak langsung mendaki, melainkan hanya berlabuh. Trekking baru dimulai keesokan paginya. Akhirnya kami mulai beres-beres kamar tidur, sambil menunggu makan malam siap. Jam 20.00 setelah makan, saya naik ke dek kapal menikmati angin sepoi-sepoi. Dingin tapi teduh.

Coba sambil kamu bayangkan: saya tidur di beanbag menghadap ke langit terbuka. Sudah pasti banyak bintang (nggak ada polusi tcuy). Senandung Monita di lagu Saat Teduh menemani, berbarengan dengan suara ombak yang halus. Membuat kapal bergoyang pelan. Tenang, sampai bikin kamu nangis terharu.

Menginap di Padar sepertinya tidak akan pernah membosankan, meski harus berulang kali. 

Baca Juga: Dengar Taman Nasional Komodo Ditutup, Saya Ingat 'Itu'...

Mengejar Matahari

Mengejar sunrise.

Pukul 04.00 subuh, Yoram membangunkan kami. Bukan cuma kapal kami yang lampunya menyala, kapal lain juga siap bergegas naik ke Padar. Kami butuh perahu kecil untuk menyeberang ke sana. Saya sarankan pakai sepatu non-slip karena trekking cukup panjang dan curam. Ditambah lagi suasana gelap karena tidak ada lampu, sehingga senter harus siap di genggaman (saya sih cuma bermodalkan flash smartphone. Pemandu wisata memang membawa senter, tapi biasanya mereka sibuk menunggu teman-teman yang ketinggalan. Karena berpencar, sebaiknya bawa alat penerangan sendiri).

Kata Yoram, kita beruntung sekarang di Padar ada tangga. Dulu bebatuan saja dan sangat curam. Trekking di Padar membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Pastikan sampai puncak ya, karena dijamin semua terbayar dengan pemandangan Padar. Bule Perancis di tim saya tidak kuat dan turun setelah setengah jalan. Sepertinya karena mabuk laut.

Sekitar pukul 06.00, matahari mulai muncul. Kamera benar-benar tidak cukup mendeskripsikan keindahan Padar. Laut biru di bawah dengan rumput oranye yang terkena sinar matahari. Wah, pokoknya indah! Kamu duduk tenang saja menikmati pemandangan, nanti pemandu tur yang sibuk memotret.

Sunrise di Pulau Padar.

Satu jam pun lewat, Yoram menunjuk satu tempat.”Ayo, kumpul disini, ini spot foto bagus,” katanya. Dan dang! Saya kemana saja tadi? Ternyata di bagian belakang lebih bagus lagi. Terlihat lekukan bukit-bukit Padar dengan warna oranye khas, tak lupa kombinasi antara laut dan langit. Mirip lukisan. Saya baru ingat spot ini sering muncul di Instagram. Satu per satu kami berbaris, ingin difoto sang pemandu.

Setelah puas, kami turun kembali melalui jalan yang sama. Turun memang lebih sulit dibandingkan naik karena sudut yang terjal. Makanya, biar aman jalan jongkok saja. Di bawah, ada banyak suvenir dijual oleh warga lokal. Mulai dari kalung batu-batuan sampai pajangan komodo. Harganya berkisar dari IDR75.000-IDR300.000. Jangan lupa bawa dompet dan cobalah menawar.

bukit padar
Open trip ke Padar bareng teman-teman kapal.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *