Beruntung. Mungkin itu satu kata yang terngiang waktu lihat breaking news Jumat pagi, 25 Januari 2019. Berita itu menjelaskan, Taman Nasional Komodo ditutup selama setahun oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat. Alasannya sih karena revitalisasi. Jadi, makanan para naga – kerbau dan rusa – sudah mulai habis dan habitat komodo pun mulai terganggu.

Tahun 2018 bulan Agustus, saya beli tiket ke Labuan Bajo. Menggunakan jasa longlasting Trip, Taman Nasional Komodo dan Pulau Rinca pun masuk ke dalam daftar perjalanan.

Baca Juga: Biaya Liburan dan Itinerary: Trip ke Labuan Bajo

Harusnya perjalanan ke Rinca dimulai pada sore hari. Mengingat waktu itu angin kencang dan khawatir tidak bisa ke Padar, tibalah kami di Taman Nasional Komodo lebih dulu. Tepatnya pukul 13.00. Kebayang nggak panasnya gimana? Yang kepanasan pun bukan cuma wisatawan, tapi juga si naga. Mereka memilih untuk berteduh sehingga jarang muncul di lahan. Sekalipun muncul, komodo tidak begitu aktif karena memang jam itu adalah waktu istirahat mereka.

taman nasional komodo ditutup
Varanus Komodoensis a.k.a komodo a.k.a si Komo.

Menuju pintu masuk, ada yang buat saya bergeming. Banyak semen dan peralatan tukang bangunan yang berserakan. Karena tour guide masih sibuk menjemput sisa kawanan kelompok kami dengan perahu, daripada bengong teman saya pun mengobrol dengan para kuli.

“Lagi pembangunan apa ini pak?” tanya Ilna.

“Katanya sih buat resort kak. Orang Jawa (dari pulau Jawa mungkin maksudnya) yang punya.”

Sontak Ilna langsung memanggil saya dan bercerita kalau ada pembangunan resort di sana. Sekarang kalau ingat percakapan itu, apakah ada sangkut pautnya dengan penutupan Taman Nasional Komodo. Dilansir dari Kompas.com, di dalam taman nasional ini nantinya akan dibangun resort, rest area, dan restoran. Habitat komodo tentunya bisa terancam.

Bahkan, pembangunan ini sudah dilawan melalui petisi online dengan judul ‘Stop tipu daya atas nama konservasi’. Berdasarkan pernyataan Kompas, petisi online ini sudah ditandatangani hingga 42.800 orang. Sama seperti warganet lainnya, saya takut kalau revitalisasi itu alasan saja agar pembangunan bisa berlanjut.

Mau ya atau tidak Taman Nasional Komodo ditutup, kembali lagi saya merasa beruntung bisa melihat langsung si binatang purba yang hanya makan sekali sebulan ini.

Hamparan Savana di Rinca

Savana membentang di Pulau Rinca.

Pulau Rinca menyajikan pemandangan savana dan perbukitan yang membentang luas. Datang di musim kemarau, kamu akan lihat Rinca dibalut dengan rumput kering berwarna kekuning-kuningan.

Agar sampai ke puncak, kami dipandu oleh ranger yang menunjukkan jalan sekaligus melindungi kami dari komodo. Ranger akan membawa ‘tongkat saktinya’ kemanapun turis pergi. Trekking ke atas memakan waktu sekitar 20 menit. Ranger akan menjelaskan informasi mengenai komodo dan Pulau Rinca menggunakan bahasa Inggris. Jangan malu bertanya meski berbahasa Indonesia, toh memang harusnya mereka bicara bahasa Indonesia hehe. Karena cuaca sangat panas, bawa minum dan gunakan pakaian yang nyaman.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *