Setelah “mendem” setahun penuh karena pandemi, akhirnya saya memberanikan diri keluar kota untuk buang limbah pikiran. Ditambah lagi harga tiket pesawat yang turun drastis membuat saya makin menggebu-gebu ingin bepergian. Teman saya, Yuni, mencetuskan ide untuk ikutan trip ke Raja Ampat. Gila ya, kok enggak dari dulu kepikiran ke sana?

Selama ini keinginan untuk terbang ke Papua selalu tertunda karena tiket pesawat yang setara dengan harga ke Eropa. Mumpung sedang turun, mengapa tidak? Yuni bilang ia punya teman di Raja Ampat yang bisa membantu perjalanan kami di sana.

Baca Juga: Biaya Liburan dan Itinerary: Trip ke Labuan Bajo

Namanya Esau. Selama di sana, ia yang memperkenalkan kami dengan beberapa wisata di Papua Barat. Mulai dari Saprokren, Arborek, Piaynemo, Sawaundarek, Pulau Batanta, sampai ke Teluk Mayalibit.

Esau, tour guide kami selama di Raja Ampat.

Penting! Biaya liburan yang saya jelaskan bisa jadi berbeda dengan tur pada umumnya karena kondisi pandemi. Harga bisa berubah-ubah. Seperti biasa, setiap destinasi akan saya review lebih komplet secara terpisah. Mohon ditunggu artikel lainnya ya!

Hari Pertama, 5 Februari 2021 – Pelabuhan Sorong, Waisai

Perjalanan kali ini sebenarnya cukup dadakan. Kami mulai merencanakan kepergian di bulan Desember dan tiket baru terbeli di bulan Januari. Makanya, bisa jadi harga tiket pesawat yang kamu pilih lebih murah kalau dibeli jauh-jauh hari.

Kami sengaja memilih penerbangan malam, karena harus mengejar kapal di Pelabuhan Rakyat Sorong pada pagi hari. Akhirnya kami memutuskan untuk transit dulu di Makassar dengan pesawat Citilink, lalu lanjut ke Sorong dengan Batik Air. Dan tadaaaa! Kami pun sampai di tanah Papua sekitar jam 8an pagi.

Teras laut Raja Ampat.

Dari bandara kami bergegas langsung ke Pelabuhan Sorong. Pelabuhan ini hanya menyediakan dua waktu keberangkatan, pukul 09.00 WIT untuk kapal Bahari Express (dilengkapi AC dan memakan waktu hanya 2-3 jam ke Raja Ampat) dan pukul 14.00 WIT untuk kapal Fajar Baru (pakai AC alam hehehe dan memakan waktu sekitar 4 -5 jam ke Raja Ampat).

Hari pertama kami habiskan untuk beristirahat. Wajarnya kamu bisa menemukan penginapan di Waisai seharga IDR300.000-IDR500.000an per malamnya, baik itu booking lewat Traveloka, Booking.com, atau bayar on the spot.

Tapi, sebelum malam benar-benar tiba, kami berkunjung ke Pantai WTC (Waisai Torang Cinta) dulu untuk melihat sunset pertama di Raja Ampat. Meski dekat dengan kota, suasana pantai WTC masih sangat terjaga dan bersih. Pas sekali kalau kamu ingin menikmati laut di tengah kesibukan kota, tanpa perlu mengeluarkan biaya.

Senja di WTC.

Hari Kedua, 6 Februari 2021 – Saporkren, Putras Resort

Hari kedua, kami mulai “pemanasan” dengan berkunjung ke beberapa destinasi sekitar. Salah satunya adalah Kampung Saporkren. Desa ini terkenal dengan hutan cagar alamnya yang memungkinkan kita untuk bertemu langsung dengan burung cenderawasih.

Sunset di Saporkren. Credit by @esau.suruan21

Sayangnya, kami datang di jam yang tidak tepat sehingga gagal melihat si cenderawasih. Alhasil kami hanya foto-foto sebentar, lalu lanjut pergi ke Putras Resort. Di sini kamu bisa snorkeling sepuasnya sambil menunggu sunset tiba.

Putras Resort. Credit by @esau.suruan21

Hari Ketiga, 7 Februari 2021 – Arborek

Arborek adalah destinasi pertama kami untuk melihat wisata bahari Raja Ampat. Lokasinya cukup jauh dari Waisai, setidaknya menghabiskan waktu satu sampai dua jam dengan menggunakan speed boat. Makanya kami menyewa homestay selama bermalam di Arborek.

Kayafyof Homestay, Kampung Wisata Arborek.

Nama penginapannya adalah Kayafyof Homestay, lengkap dengan teras laut dan sunset spot terbaik! Siap-siap deh lihat hamparan pasir putih di Arborek. Enggak lupa, lautnya biru dan jernih banget. Kamu bisa snorkeling asyik bareng ikan di sudut dermaga Arborek.

Diving bareng kakak-kakak Arborek Diving Shop.

Meski hanya semalam, rasanya kampung wisata yang satu ini paling membekas selama saya melakukan trip ke Raja Ampat. Untuk pertama kalinya saya bisa mencoba diving di lautan lepas! Pasalnya, setiap kali ingin diving, kita wajib punya lisensi dulu untuk bisa beraktivitas di bawah laut. Nah, untungnya di Arborek Diving Shop, kamu berkesempatan menjelajahi laut Arborek tanpa perlu lisensi. Pastinya kamu akan mendapatkan pelatihan dasar sebelum terjun langsung ke laut.

Setelah pelatihan teori, kita juga praktik bareng guide sebelum benar-benar terjun ke bawah laut.

Hari Keempat, 8 Februari 2021 – Pulau Gam, Piaynemo, Telaga Bintang

Bangun pagi, kami langsung bergegas ke Kepulauan Gam untuk mencoba (lagi) melihat burung cenderawasih di Kampung Sawingrai. Kabarnya pada jam tertentu, burung khas Papua ini akan mengerumuni pepohonan di belakang Kampung Sawingrai.

Lagi-lagi kami gagal bertemu burung cenderawasih huhu. Katanya sih sudah terbang ke kampung lain. Jadilah kami melanjutkan perjalanan ke Taman Asmara yang masih terletak di area Desa Sawingrai. Dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Raja Ampat, di sini kamu bisa menemukan spot foto dengan pemandangan gugusan pulau kecil di sekitar Kepulauan Gam. Untuk sampai ke sini, kamu perlu trekking sekitar 15 menitan. Nantinya di puncak, kamu akan disambut dengan gazebo kayu berbentuk lima jari.

Gazebo Lima Jari.

Setelah bersantai di Taman Asmara, kami melanjutkan perjalanan ke Piaynemo! Dapat julukan “Little Wayag”, menurut banyak pelancong Piaynemo wajib masuk ke dalam daftar destinasi bila kamu berkunjung ke Waigeo.

Untuk mencapai puncak Piaynemo, saya perlu melewati 320 anak tangga. Meski matahari Raja Ampat lumayan terik, rindang pepohonan di tepi tangga mampu meneduhkan perjalanan hingga ke atas. Piaynemo sendiri menyajikan pemandangan bukit karst yang menjulang tinggi, ditemani dengan warna turquoise dan biru lautan.

Piaynemo!

Nah, kalau sedang bertandang ke Piaynemo, jangan lupa untuk mengunjungi Telaga Bintang! Jaraknya hanya 5 menit kalau menggunakan kapal cepat. Sama seperti Piaynemo, Telaga Bintang merupakan perbukitan batu karst dengan air toska di sekitarnya. Bedanya bentuknya persis seperti bintang. Pendakian ke puncak Telaga Bintang relatif lebih pendek, tapi tetap harus berhati-hati ya!

Telaga Bintang.

Hari Kelima, 9 Februari 2021 – Sauwandarek, Pulau Batanta, Pulau Kelelawar, Waisai

Matahari terbenam dan kami langsung bergegas ke Sauwandarek untuk bermalam. FYI, di sini sinyal ponsel benar-benar mati. Jadi para budak korporat siap-siap dicariin bos ya HAHA. Kampung ini juga mengalami pemadaman listrik setiap pukul 06.00-18.00. Saran saya, selalu siap powerbank kemana-mana!

Bangun pagi kami langsung memulai aktivitas snorkeling di laut Sauwandarek. Harus saya akui ikannya sangat beragam! Baru di tepian saja, kamu sudah bertemu dengan baby shark. Saya jadi rindu dengan dasar laut Taka Makassar yang ada di Labuan Bajo.

Kerumunan ikan Sauwandarek.

Selesai snorkeling kami menepi untuk sarapan dulu, baru melanjutkan perjalanan ke Pulau Batanta. Di pulau ini kamu bisa melihat Air Terjun Batanta atau biasa dikenal dengan masyarakat setempat dengan nama Air Terjun Warinkabom. War yang artinya “air” dan inkabom yang berarti “janda”. Sebelum memasuki tempat wisata, kami terlebih dahulu mampir ke Arefi untuk membayar retribusi adat, sebesar IDR200.000 per satu speed boat.

Si kaki lemah, lumut dikit jatuh.

Untuk sampai ke Warinkabom, kita harus melakukan trekking ke pedalaman hutan. Medannya cukup berat, jadi pastikan pakai sepatu yang sesuai dan tas anti air, karena di sana kamu bakal sering bertemu air.

Berenang di Air Terjun Warinkabom.

Habis mandi-mandi lucu di Warinkabom, waktunya mengejar sunset di Pulau Kelelawar! Seharian tidak ada sinyal, akhirnya semua pesan WhatsApp datang menyerbu. Jangan sampai kelewatan bagusnya pemandangan matahari terbenam (kayak saya HAHA) gara-gara pesan WA.

Sunset dari Pulau Kelelawar.

Perjalanan laut kami pun berakhir di Waisai. Di kota ini kami beristirahat sejenak, karena besok masih ada Kalibiru menanti untuk dijelajahi!

Hari Keenam, 10 Februari 2021 – Kalibiru

Meski masuk daftar terakhir, dijamin Kalibiru bakal bikin kalian pengin balik lagi ke Raja Ampat! Letaknya berada di dekat perkampungan Warsambin yang ada di sekitar Teluk Mayalibit. Kabar baiknya, perjalanan ke Kalibiru enggak se-ekstrem perjalanan lainnya. Dari tempat kapal bersandar, kamu hanya perlu trekking sekitar 15 menitan ke dalam hutan.

Sesuai namanya, Kalibiru adalah sungai kecil dengan air berwarna biru yang mengalir di tengah Hutan Waisai. Jernih sekali! Oiya, jangan kaget kalau kamu tiba-tiba kedinginan saat berenang, soalnya suhu air Kalibiru bisa mencapai 10-20 derajat celcius!

Segernya air Kalibiru!

Hari Ketujuh, 11 Februari 2021 – Pelabuhan Sorong

Hari ketujuh, hari terakhir kami di Raja Ampat (hiks sedih). Kami mulai sibuk packing barang dan beli oleh-oleh.

Sebenarnya perjalanan kami masih berlanjut di Sorong, tetapi saya hanya akan menjelaskan bujet dan itinerary trip ke Raja Ampat. Kamu bisa menemukan cerita perjalanan saya ke Sorong di artikel selanjutnya.

Air Terjun Sasnek di Sorong Selatan.

Dari hari pertama sampai ketujuh, berapa bujet yang saya siapkan untuk trip ke Raja Ampat? Berikut detail informasinya:

  • Tiket pesawat PP IDR3.800.000
  • Kapal dan bensin IDR7.400.000
  • Kapal Bahari Express, Gojek IDR300.000
  • Rental motor, bensin, parkir IDR300.000
  • Penginapan (include makan) IDR2.400.000
  • Diving IDR750.000
  • Tiket masuk semua wisata IDR750.000

Jadi, total biaya yang harus kamu keluarkan adalah IDR15.700.000. Biaya di atas belum termasuk uang tip untuk tour guide, snack, dan snorkeling kit. Ada beberapa tips buat kamu yang ingin berlibur ke Raja Ampat.

FOR YOUR INFORMATION

  • Semakin banyak orang, semakin murah untuk patungan bensin. Karena saya hanya pergi berdua, biaya bensin lumayan menguras kantong.
  • Pilih tiket pesawat dari jauh-jauh hari. Saya sempat mengecek tiket PP (pulang-pergi) dan mendapat harga hanya IDR2.800.000 saja.
  • Sebaiknya kunjungi Raja Ampat di bulan Februari-April, mengingat angin selatan di bulan Juli-Agustus lumayan ‘ganas’.
  • Destinasi di atas hampir semuanya melalui medan yang berat. Saya saja sering terpeleset selama perjalanan HAHA. Jangan lupa pakai baju yang nyaman dan sepatu anti licin yaw~

Dibandingkan dengan open trip Raja Ampat lainnya, bujet liburan di atas termasuk murah loh! Saya bahkan pernah menemukan trip seharga IDR25.000.000. Mungkin karena saya pergi bareng orang lokal juga.

Melihat destinasi dan bujet liburan di atas, apakah kamu tertarik untuk berkunjung ke Raja Ampat? Kalau ditanya, saya sendiri punya rencana untuk datang kembali kesini. Masih banyak kepulauan yang belum sempat kami jelajahi. Sebut saja Misool dan Wayag.

Wayag (dok. Authentic Indonesia)

Seperti yang saya bilang sebelumnya, biaya akan lebih terjangkau kalau kamu berlibur dengan share cost (patungan biaya). Nah, seandainya di lain waktu saya berniat membuka open trip ke Raja Ampat, apakah kalian tertarik untuk bergabung? Kasih pendapat kamu di kolom komen ya!

Buat yang tertarik untuk tanya-tanya tentang open trip Raja Ampat, follow Instagram resmi kami di @torangtopapua ya!

2 Comments

  1. Polina Manik March 14, 2021 at 11:19 pm

    Wah artikelnya sangat menarik. Thanks untuk infonya katadana. Ditunggu artikel untuk next trip selanjutnya.

    Reply
    1. Dana Delani - Site Author March 16, 2021 at 2:36 am

      Popooo wkwkwk kaku banget komennya kayak kanebo. Tungguin yaa cerita selanjutnya!

      Reply

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *